gambar

Ekonomi Menjerat Rumah Tangga, Perceraian di Kecamatan Airgegas Jadi Cermin Gagalnya Solusi untuk Rakyat

Admin Redaksi
0
Reportase.com, BANGKA SELATAN — Perceraian bukan selalu lahir dari ketidakcocokan. Di banyak rumah tangga kecil, keretakan justru berawal dari dapur yang tak lagi berasap, kebutuhan yang terus menumpuk, dan penghasilan yang tak pernah cukup. Fakta itu kembali terlihat dalam sebuah sidang perceraian yang digelar di Gedung Serba Guna Kecamatan Airgegas, Bangka Selatan, Senin, 13 April 2026.

Dari keterangan seorang saksi, persoalan ekonomi menjadi penyebab utama runtuhnya rumah tangga kerabatnya. Sang kepala keluarga diketahui bekerja sebagai penyadap karet atau ngaret, namun penghasilan sekitar Rp200 ribu per minggu jelas tidak cukup untuk menutup kebutuhan hidup keluarga. Dalam kondisi serba mahal, angka itu bukan sekadar kecil, tetapi nyaris mustahil menopang rumah tangga.

Inilah kenyataan pahit yang masih dialami sebagian masyarakat desa. Ketika pekerjaan tidak memberi penghasilan layak, maka rumah tangga menjadi pihak pertama yang menanggung beban. Pertengkaran, tekanan batin, saling menyalahkan, hingga akhirnya perceraian, sering kali hanya menjadi ujung dari persoalan ekonomi yang dibiarkan berlarut-larut.

Peristiwa ini seharusnya menjadi tamparan bagi pemerintah. Sebab, ketika perceraian dipicu oleh kemiskinan dan minimnya penghasilan, maka persoalannya tidak lagi murni urusan pribadi suami-istri. Ini sudah menjadi persoalan sosial yang menuntut kehadiran negara.

Masyarakat tentu tidak cukup hanya diberi tontonan, acara seremonial, atau hiburan sesaat. Yang lebih dibutuhkan adalah solusi nyata: lapangan kerja, pendampingan usaha, penyuluhan pertanian, bantuan bibit unggul, hingga program peningkatan hasil perkebunan rakyat. Jika mayoritas warga menggantungkan hidup dari kebun karet, maka pemerintah seharusnya hadir dengan inovasi, misalnya penyediaan bibit karet unggul gratis yang lebih produktif dan menghasilkan getah lebih banyak.

Jangan sampai rakyat terus diminta bertahan dengan keadaan, sementara akar masalahnya dibiarkan. Sebab, keluarga miskin tidak butuh janji, mereka butuh penghasilan. Mereka butuh peluang. Mereka butuh keberpihakan.

Hari ini masyarakat masih bisa sedikit bernapas karena sektor timah masih menjadi penyangga ekonomi. Namun pertanyaannya, sampai kapan? Jika suatu hari timah tak lagi bisa diandalkan, ke mana rakyat harus mencari sandaran hidup? Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan diam.

Perceraian yang terjadi di kecamatan Airgegas semestinya tidak dipandang sebagai kasus rumah tangga biasa. Ini adalah sinyal bahwa tekanan ekonomi di tingkat bawah sudah begitu nyata dan mulai merusak sendi keluarga. Bila pemerintah tidak segera menghadirkan jalan keluar, maka yang runtuh bukan hanya ekonomi warga, tetapi juga ketahanan sosial masyarakat itu sendiri.(Narasumber Dari masyarakat)
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top